PENGALAMAN PERTAMA IKUT LOMBA (Karya : Birruki Asadana Fasa)

 

27-28 Oktober adalah hari santri dan sumpah pemuda, sekolah Gebi mengadakan beberapa perlombaan salah satunya Gebi yang ditunjuk sebagai lomba baca puisi mewakili kelasnya 8c. Gebi anaknya demam panggung, “Bagaimana ini yuni, aku malu mau tampil didepan banyak orang” kata Gebi. “tidak apa-apa aku akan membantumu, semua teman juga mendapat lomba untuk mewakili bidang masing-masing” kata Yuni menenangkan. Yuni mengajari Gebi cara membaca puisi dan terus menyemangatinya. “Aku masih takut” kata Gebi, “jangan takut, kamu harus berusaha optimis dan percaya diri seperti para pemuda zaman dulu yang berjuang demi Indonesia, sedangkan kamu harus berjuang demi kelas kita. Ayo semangat....!” kata Yuni menyemangati. Dan Yuni berhasil membuat Gebi Optimis.

            Sepulang sekolah Gebi disuruh ibunya mengantar bubur pada tetangganya, dan pada saat mengantarkan “assalamu’alikum bu Nia, ini ada bubur dari ibu” kata Gebi ramah sambil memberikan bubur yang dibawahnya kepada bu Nia yang sedang menyapu halaman rumahnya. “Wa’alaikumsalam, terima kasih, oh... iya katanya sekolahmu mengadakan lomba utuk memperingati sumpah pemuda ya...?” tanya bu Nia. “Iya bu, saya ditunjuk untuk lomba baca puisi” jawab Gebi. “Hahaha benarkah? Kamu kan anaknya demam panggung, memangnya kamu berani membaca puisi didepan banyak orang?, nanti baru ngucapin salam langsung pingsan”, kata bu Nia mengejek. Bu Nia hanya bercanda tetapi Gebi terlanjur memasukan ke hati. Gebi hanya cemberut dan akhirnya pergi meninggalkan rumah bu Nia.

            Keesokan harinya, “Yuni aku belum siap” kata Gebi. “Kok gitu kemarin kamu semangat, memangnya ada apa dengan kamu?” tanya Yuni dengan heran. “Saya diejek tetangga” jawab Gebi, “hahaha masak diejek tetangga saja dimasukin ke hati, sudah jangan dipikirkan. Tetangga memang seperti itu, ayo semangat...! kamu harus rela berkorban demi kelas kita!” kata Yuni dengan penuh semngat. Gebi pun kembali bersemangat untuk mengikuti lomba.

            Hari perlombaan tiba, Gebi sangat gerogi sekali. Keringat dingin tak hentinya keluar, bibirnya pun tak lepas dari doa-doa yang ia baca agar hatinya tenang. Gebi semakin gerogi saat namanya dipanggil untuk tampi di depn banyak orang. Tetapi teman-temannya selalu meyakinkan dan menyemangati sehingga membuatnya sedikit tenang. Gebi langsung naik ke atas panggung dengan menghela nafas panjang, dan dengan lancar ia mampu membaca puisinya yang berjudul semangat pemuda. Setelah membaca ia sedikit lega tetapi belum sepenuhnya, karena pemenang lomba belum diumumkan. Gebi terus membaca doa supaya ia mampu berhasil dan hatinya mulai tenang.

            Pengumuman pemenang lomba pun dibacakan juri. “Assalamu’alaikum wr wb. Disini saya akan membacakan pemenang dari hasil lomba puisi, langsung saja juara 3 diraih olehkelas 9a, juara 2 diraih oleh kelas 9b dan juara 1 diraih oleh kelas 8c”. Gebi sangat terkejut kelasnya dipanggil dan meraih juara 1 dalam lomba puisi tersebut. Gebi sangat senang sekali, tepuk tangan dari para penonton membuat dirinya bahagia dan mengucapkan rasa syukur yang tiada tandingnya. Begitupun teman-teman sekelasnya yang juga sangat bahagia karena kelasnnya mampu menjadi juara. Gebi sangat senang sekali , ia menucapkan terimakasih kepada Yuni yang telah mengajarinya dan juga kepada teman-temannya yang telah memberikan semangat kepada dirinya. “Alhamdulillah, selamaini usahaku dan semangatku tidak sia-sia” kata Gebi di dalam hati. Gebi menerima hadiah berupa tropi emas dari bapak kepala sekolah, yang ia letakkan di atas lemari kelasnya. Ia akan selalu mengingat dan mengenang tropi itu selamnya karena itu tropi pertamanya.

© Hak Cipta 2024 MTs Tarbiyatul Wathon Gresik - Semua hak dilindungi

Dikembangkan oleh : Anggasoft